Pemujaan

Aku selalu menjadikanmu bulan
Setiap gelap malam membentang
Memujamu…mengagumimu…
Aku selalu menjadikanmu mentari
Ketika hujan basahi bumi
Menunggumu…mengharapmu…
Akhirnya aku mengerti
Tak selamanya rasa itu abadi
Bulan takkan bisa kugenggam
Mentari takkan bisa kumiliki
11 Mei 09′

???

Ketika sepi mulai merayapi
Wajahmu hadir dalam anganku tanpa permisi
Aku berusaha…sangat berusaha
Melempar semua tentangmu kepelukan mega
Agar tak ada lagi cerita
Entah suka entah duka
Tentangmu yang tersisa
Tapi apa yang terjadi???
Bayangmu malah tak mau pergi, aku benci!!!
08 Mei 09′

Puisi untuk mu

Semakin letih jemariku menggoreskan tinta
Mengungkapkan semua derita yang ada
Kepada siapa???
Hanya sehelai kertas putih yang kini berwarna
Malam kelam…angin diam….
Seolah mengerti perih yang tersimpan rapi
Dibalik sejuta senyum ini
Luka menganga tergores dalam
Aku berpuisi
Untukmu wahai penghuni hati
Yang dulu pernah hadirkan cinta
Meskipun kini menjadi lara
Aku berpuisi
Untukmu wahai penghadir rindu
Lupakan semua yang telah lalu
Karna tak ada jalan kembali untukmu
08 Mei 09′

Kamu

Malam ini tetap sama
Lagi dan lagi terseret ke kisah lama
Kesepian ini begitu membelenggu
Kesendirian ini membuatku kembali teringat kamu
Kamu…
Mengapa masih membayangiku
Dalam Kelu dalam pilu
Kamu tetap hadirkan rindu
Malam ini tetap sama
Bulan tak akan pernah bicara
Tentang perih tentang luka
Yang selalu terasa ketika gelap menyapa
Mengingatmu…deritaku…
08 Mei 2009

Butuh Waktu

Rautmu selalu terukir
Dalam garis – garis penuh getir
Karna setiap derai tawa
Kini menjelma menjadi air mata
Aku tak pernah mengerti
Mengapa rindu masih tertinggal dihati
Meskipun cinta telah terkubur mati
Namun tentangmu tetap terpatri
Meninggalkan mu terasa begitu mudah
Tapi melupakanmu teramat susah…payah…
Apakah jalan yang kuambil ini salah???
Kepada siapa aku seharusnya marah???
07 Mei 09′

PenERimaaN

Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati
Aku masih tetap sendiri
Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi
Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani
Kalau kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi
Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.
Maret 1943
Chairil Anwar